Foto by : Setiawan Yosep Wijayanta
Bu Asih (40), perajin batik dari Rejodani,
Sleman. Beliau sosok seorang wanita paruh baya yang berprofesi sebagai perajin
batik. Sebuah ketrampilan yang tidak semua orang bisa melakukannya seperti
halnya Bu Asih. Walaupun dengan salah satu angggota tubuhnya tidak sempurna
tetapi semangat beliau sungguh luar biasa bagaikan kobaran api yang tidak
pernah padam dengan apapun. Setiap goresan malam dan lincah tangannya dapat
menghasilkan batik yang sungguh indah dipandangan mata. Dari semua itu yang
paling Bu Asih pentingkan adalah untuk nguri-uri kebuadayaan yang mungkin
hampir hilang ditelan bumi agar tetap lestari.
Selain keterampilannya dalam membatik
menggoreskan malam, beliau juga bisa tehnik membuat motif hingga proses
pewarnaan. Sejak remaja sudah membuat motif batik dengan tangannya sendiri dan
mengerjakan batik tersebut kukuh tekun sudah menjadi hariannya untuk batik.
Keahlian ini diwariskan dari keluarga secara turun temurun, sejak beliau remaja
hingga kini. Keahlian yang diwarisi dari keluarganya dikembangkan menjadi
tumpuan menghidupinya beliau. Semua itu dilakukan Bu Asih untuk membantu
meringankan kebutuhan hidup yang semakin melonjak bagaikan ombak pasang di laut
selatan.
Saat sang surya terbit, di halaman rumah yang
sangat asri, Bu Asih dengan ditemani kicauan burung dan hangatnya sinar sang
surya sudah mulai membatik. Dan dalam proses membatik ini harus sabar dan
dengan ketelitian dalam menggoreskan malam dikain untuk menghasilkan batik yang
menawan hati proses membatikpun sungguh tidak mudah, terkadang butuh waktu
hingga satu bulan untuk menyelesaikan selembar kain yang indah. Bu Asih
biasanya membatik bersama dengan yang mau untuk belajar membatik tulis.
Terkadang untuk sehelai kain batik bisa laku dengan harga yang sangat tinggi.
Tapi mungkin belum sebanding dengan sehelai kain batik buah tangannya
sendiri. Alhasil walupun memang hal ini tidak sebanding dengan apa yang
dikerjaakannya, tapi Bu Asih melakukan denagn senanghati karena yang penting
pelestarian perajin batik agar tidak hilanng termakn masa.
Menjelang senja ketika matahari bergerak turun di
sore hari dan sinarnya yang kemerahan bagikan menempel di batas laut, Bu Asih
bergegas membereskan alat-alat untuk dilanjutkan keesokan harinya. Setelah
itulah saat para perajin menyiapkan diri untuk menjalankan kewjibannya sebagai
orang yang telah berkeluarga.
Naskah By :
Setiawan Yosep Wijayanta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar